Aksi Demo Gen Z Demi Mendapat Keadilan DPR

Aksi Demo Gen Z Demi Mendapat Keadilan DPR – Pemerintah Indonesia lagi dikejutkan oleh gerakan mahasiswa yang diinisiasi oleh generasi Z. Sebuah generasi yang dianggap paling individualis dan egois dibanding generasi para pendahulunya. Namun nyatanya, mahasiswa Gen Z mampu mengorganisir diri dan memobilisasi aksi.

Memang, sedikit orang bahkan pengamat politik yang mengetahui kenyataan bahwa di tangan generasi Z, politik tidak hanya menjadi perjuangan sosial tetapi sudah bersifat perjuangan personal. slot online indonesia

Aksi Demo Gen Z Demi Mendapat Keadilan DPR

Alih-alih sebagai gerakan ideologis, gerakan mahasiswa saat ini lebih bermuatan praktis. Tujuan mereka turun kejalan menuntut DPR untuk membatalkan RUU KPK, RKUHP dan menuntaskan agenda reformasi. Karena kelompok mahasiswa sadar bahwa yang dipertaruhkan di sini adalah kepentingan individu mereka dan masa depannya sendiri sebagai warga negara.

Sinisme mahasiswa Gen Z terhadap lembaga-lembaga negara, partai-partai politik, dan para politisi kadang diterjemahkan sebagai fenomena apatisme politik. Padahal ini fenomena yang jauh berbeda.

Alih-alih sebagai gerakan ideologis, gerakan mahasiswa saat ini lebih bermuatan praktis. Tujuan mereka turun kejalan menuntut DPR untuk membatalkan RUU KPK, RKUHP dan menuntaskan agenda reformasi. Karena kelompok mahasiswa sadar bahwa yang dipertaruhkan di sini adalah kepentingan individu mereka dan masa depannya sendiri sebagai warga negara.

Aksi Demo Gen Z Demi Mendapat Keadilan DPR

Sinisme mahasiswa Gen Z terhadap lembaga-lembaga negara, partai-partai politik, dan para politisi kadang diterjemahkan sebagai fenomena apatisme politik. Padahal ini fenomena yang jauh berbeda.

Walaupun, anggapan ini lebih kuat terbangun karena persepsi mereka terhadap perilaku para politisi yang dianggap “korup” dan “jahat” ketimbang ketidakadilan sistemik.

Kebencian mahasiswa Gen Z  terhadap politisi semakin membesar, karena aktivisme politik kini dapat disalurkan tidak hanya melalui partai politik tetapi juga dapat dimandatkan pada berbagai bentuk kelompok politik, gerakan-gerakan protes, hingga penggunaan media baru.

Kebangkitan dari Politik Baru, menurut Andrew Heywood, dalam Politics (2013), dicerminkan dari gaya partisipasi yang lebih cair, partisipatoris, non hirarkis dan lebih spontan. Kehadiran politik baru juga ditopang oleh kemunculan masyarakat post-industri dan penyebaran nilai-nilai post-materialis.

Walaupun, anggapan ini lebih kuat terbangun karena persepsi mereka terhadap perilaku para politisi yang dianggap “korup” dan “jahat” ketimbang ketidakadilan sistemik.

Kebencian mahasiswa Gen Z  terhadap politisi semakin membesar, karena aktivisme politik kini dapat disalurkan tidak hanya melalui partai politik tetapi juga dapat diman

Kebangkitan dari Politik Baru, menurut Andrew Heywood, dalam Politics (2013), dicerminkan dari gaya partisipasi yang lebih cair, partisipatoris, non hirarkis dan lebih spontan. Kehadiran politik baru juga ditopang oleh kemunculan masyarakat post-industri dan penyebaran nilai-nilai post-materialis.

Eric Hoffer dalam bukunya yang berjudul The True Believer (1951), telah lama menyatakan bahwa orang yang paling mementingkan diri sendirilah yang kemungkinan besar paling gigih dalam perjuangan.

Menurut Hoffer, karena orang yang mementingkan diri sendiri sangat mudah merasa kecewa dan tidak puas. Maka dari itu, semakin besar sifat mementingkan diri seseorang, semakin tajam rasa kecewanya terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan dirinya.

Menariknya, jika ditelusuri lebih dalam, jujur dan terbuka, sebenarnya tidak semua mahasiswa merasa kecewa dan tidak puas terhadap berbagai polemik yang terjadi. Tetapi mereka tetap berada di dalam barisan demonstrasi.

Kondisi ini dijelaskan cukup lucu oleh Hoffer. Menurutnya, hampir dari seluruh kelahiran gerakan massa didahului oleh rasa bosan yang menumpuk yang tidak mendapatkan jalan keluar. Ini yang seringkali membuat, gerakan massa kemungkinan besar lebih banyak mendapatkan dukungan dari orang yang bosan daripada dari orang yang tertindas.

Sumber utama rasa bosan adalah kesadaran individu terhadap kehidupan yang menjemukan, hampa, tanpa makna. Maka dari itu, Hoffer menyatakan, individu dapat bebas dari rasa bosan jika ia hanyut dalam kegiatan kreatif atau sepenuhnya sibuk berjuang untuk hidup. Maka merangkul orang-orang bosan tersebut cukup potensial untuk memperbesar gerakan.

Pada konteks ini, kebosanan dapat menjelaskan munculnya hal-hal kreatif dan lucu di lautan massa sekaligus membuat seluruh mantan aktivis mahasiswa-mahasiswi dari generasi milenial, generasi X bernostalgia dengan berbagi foto masa lalu saat berdemonstrasi di media sosial.

Namun, dari semua unsur yang mempersatukan berbagai elemen gerakan mahasiswa bergerak bersama, rasa kecewa terhadap pemerintahan dan DPR adalah unsur yang paling menyatukan. Rasa kecewa menjadi tipping point yang menggerakan individu-individu untuk mengintegrasikan diri kedalam kolektif besar untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

Rasa kekecewaan bersama dapat menyatukan perbedaan golongan, berbagi rasa kecewa bahkan dengan musuh sama dengan mengajaknya ikut bersama dalam satu barisan. Berbagi kekecewaan bisa menjadi wabah yang menjangkiti setiap orang untuk bertindak melampui norma dan tatanan sosial. Dan rasa kecewa hanya dapat diredam dengan memperbaiki keadaan bukan hanya memberi harapan.

Jangan sampai pemerintah terlambat dan menyesal, saat gerakan mahasiswa ini menjelma menjadi “Black Swan.”  Istilah  “Black Swan” dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb untuk menunjukan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar kendali yang melahirkan kegemparan. Dalam konteks ini adalah kemungkinan faktor X yang akan memberikan “kejutan” bagi situasi politik, ekonomi dan sosial mutakhir.

Terkait hal ini, mantan Ketua MK Mahfud MD mengungkapkan secara pribadi mendukung mahasiswa yang berunjuk rasa di Gedung DPR. Dengan unjuk rasa, kata dia, mahasiswa dapat memunculkan dan menyuarakan aspirasi mereka kepada pemerintah dan DPR.

“Saya ini mahasiswa dulunya. Saya senang demo dan saya mendukung mahasiswa demo, tetapi jangan merusak karena demo itu kemudian bisa memunculkan aspirasi. Dari situ pemerintah dan DPR jadi tahu apa keinginan mahasiswa,” kata Mahfud di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (26/9).

Mahfud menyayangkan unjuk rasa berakhir dengan kericuhan, yang kemudian merusak sejumlah fasilitas umum. Menurut dia, sebagai kalangan terpelajar mahasiswa seharusnya dapat menahan diri dari provokasi.

“Saya sudah bilang jangan membakar, jangan membakar hati dan jangan membakar gedung, kan gitu. Membakar hati kan manas-manasi terus gitu,” tegas Mahfud.

Terkait dugaan adanya pihak luar yang menumpang di tengah-tengah unjuk rasa, Mahfud menilai hal itu biasa di setiap aksi. Namun, menurutnya oknum yang menumpang tak pernah menjadi perhatian publik karena yang disoroti adalah aspirasi yang disampaikan peserta aksi.

“Isu penumpang dan sebagainya menurut saya biasa, setiap demo ada penumpang ada provokatornya tapi itu tidak pernah menjadi arus utama. Ada yang menumpang ada, tapi enggak pernah menjadi perhatian publik karena yang jadi perhatian publik aspirasi utamanya,” ucap Mahfud.

“Saya melihat dari TV penumpangnya itu dia bicara sendiri dan viral dibuat sendiri di depan demo lalu ‘kami datang ke sini hanya meminta kepada MPR untuk mencopot Pak Jokowi’. Kan itu orang numpang dikeramaian, yang demo tidak bicara begitu yang demo asli,” jelas Mahfud.

Mahfud mengatakan pemerintah sudah memenuhi tuntutan mahasiswa dengan menunda pembahasan RKUHP. Sehingga ia meminta agar mahasiswa menahan diri dan tidak lagi melakukan aksi demonstrasi.

“Sekarang waktunya cooling down. Untuk apa? Biar diolah dulu isi demonya kalau demo terus kapan (akan selesai), di demo terus padahal sudah ditangkap maksdunya,” pungkasnya.